
Limbah peternakan seringkali dianggap sebagai masalah lingkungan. Kotoran yang menumpuk, bau yang menyengat, hingga kebiasaan membuang ataupun menebarkan kotoran langsung ke lahan menjadi permasalahan yang cukup umum di berbagai daerah. Namun, dibalik limbah peternakan tersebut tersimpan potensi besar yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai guna terutama bagi sektor pertanian. Potensi inilah yang ditemukan oleh kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University 2026 saat melakukan observasi di peternakan kambing milik BUMDes Arya Kamuning, Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.
Melalui hasil diskusi dengan salah satu peternak tersebut, diketahui bahwa kotoran kambing yang dihasilkan setiap harinya hanya dibiarkan menumpuk di bawah dan sekitar kandang. Jika ada warga yang membutuhkan, mereka dipersilakan untuk mengambil secara langsung. Namun, jika tidak ada yang mengambil, kotoran tersebut dibiarkan menumpuk begitu saja. Kalaupun dimanfaatkan, kotoran kambing biasanya langsung ditebarkan ke lahan sebagai pupuk tanpa diolah terlebih dulu. Padahal, jika diolah dengan proses pengomposan yang tepat, limbah tersebut dapat diubah menjadi pupuk kompos yang lebih stabil, matang, dan siap diaplikasikan ke tanaman.
Kondisi ini mendorong mahasiswa KKNT Inovasi IPB untuk melaksanakan program kerja yaitu pembuatan pupuk kompos berbasis kotoran kambing dengan memperkenalkan metode pengomposan cepat yang mampu mengubah kotoran kambing menjadi pupuk kompos hanya dalam waktu sekitar dua hari.
Proses pembuatannya dimulai dari pengumpulan kotoran kambing sebanyak 100 kg dan sudah dipisahkan dari kotoran lainnya. Kemudian kotoran tersebut diletakkan di atas terpal dan diratakan setebal 10 cm. Lalu, larutan aktivator disiapkan dengan mencampurkan air rendaman kapur dolomit yang sudah dipisahkan dari endapan kapur, bakteri aktivator MSG 3, dan suplemen pendukung sampai tercampur rata. Larutan aktivator kemudian disiramkan ke permukaan kotoran kambing secara merata. Setelah 2-3 jam atau sudah mengering, kotoran dibalik lalu disiram kembali dengan larutan aktivator. Langkah tersebut diulang 3-4 kali.
Hasil yang didapatkan cukup mengejutkan. Hanya dalam dua hari, kotoran kambing sudah berhasil berubah menjadi pupuk kompos dengan warna yang lebih gelap, lebih kering, berbau seperti tanah, dan memiliki tekstur yang lebih remah. Dari 100 kg kotoran kambing yang diolah, didapatkan sekitar 80 kg pupuk kompos yang siap digunakan.
Waktu pengolahan pupuk kompos ini dapat dikatakan sangat singkat jika dibandingkan dengan metode pengomposan pada umumnya yang membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Melalui program kerja ini, kelompok mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 berharap masyarakat Desa Kaduela dapat melihat bahwa kotoran ternak tidak hanya menjadi limbah, tetapi dapat memberikan nilai tambah. Dengan pengolahan sederhana dalam waktu singkat, kotoran kambing dapat diubah menjadi pupuk organik yang lebih berkualitas dan bermanfaat bagi sektor pertanian.
(D.N Charista P 2026)